BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar belakang
Pendidikan merupakan hal yang penting kehidupan manusia, karena inti
kehidupan manusia sebenarnya bergantung pada pendidikan. Masa depan kita
bergantung pada bagaimana kita dididik. Pendidikan pada dasarnya merupakan
suatu peristiwa yang sangat kompleks dan didalamnya terdapat suatu proses
belajar mengajar.
Pembelajaran adalah suatu aktivitas yang secara sengaja dilakukan untuk
memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan
yaitu tercapainya tujuan pembelajaran. Pendidikan luar biasa sebagai salah satu
pendidikan yang khusus menangani anak-anak yang berkelainan sebagai objek
formal dan materialnya dari berbagai jenis kelainan termasuk anak tunagrahita,
secara sadar terus berupaya meningkatkan pelayanan dengan sebaik-baiknya.
Pemilihan media pembelajaran oleh guru sangatlah penting. Seorang guru
dapat mengunakan berbagai alternatif media pembelajaran yang diperkirakan dapat
membantu anak tunagrahita dalam belajar. Salah satu media yang dapat diterapkan
adalah media animasi komputer. Media animasi komputer merupakan salah satu
media alaternatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran hal ini berdasarkan
anggapan bahwa aspek visual lebih bisa memberi informasi yang jelas dari
sekedar kata-kata. Animasi komputer dapat membantu anak tunagrahita ringan
belajar sains pada tingkatan abstraksi yang berbeda karena gambar pada komputer
berperan sebagai mediator antara masalah pada alam nyata dengan dunia abstrak
pengetahuan sains.
Suatu kegiatan pembelajaran, sangat menentukan keberhasilan seorang anak
dalam menangkap dan memahami isi materi yang telah disampaikan oleh guru. Oleh
karena itu, guru harus mampu memilih media pembelajaran yang akan digunakan,
agar dapat terciptanya proses belajar yang menyenangkan, sehingga proses
belajar/mengajar dapat berlangsung secara afektif dan efisien, serta dapat
dipahami dengan mudah oleh peserta didik.
Anak tunagrahita memiliki hambatan dalam belajar, mereka memiliki IQ
dibawah rata-rata anak pada umumnya. Kejenuhan anak tunagrahita dalam menerima
materi yang disampaikan guru, cenderung lebih besar dibandingkan dengan anak
lainnya. Oleh karena itu proses pembelajaran bagi anak tunagrahita harus
berlangsung dalam suasana yang menyenangkan
sehingga proses belajar/mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Media animasi komputer sangat menonjolkan unsur visualisasi (gambar)
dan unsur imajinasi suara Hal ini yang menjadi penguat bagi anak tunagrahita dalam menerima informasi sains
khu susnya mengenai energi. Apa yang didengar siswa dikuatkan oleh visual (penglihatan)
dan apa yang dilihat
siswa dikuatkan oleh audio (pendengaran). Hal ini akan
memberi kesan yang kuat pada anak tunagrahita, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam
memorinya.
Bertolak
dari faktor itulah, maka kelompok 6 menulis makalah ini dengan mengangkat judul
“
Pengaruh Pemanfaatan media pembelajaran berbasis animasi pada pelajaran sains
bagi anak tunagrahita”
- Rumusan masalah
1.
Apa pengetian
dan karakteristik anak tunagrahita?
2.
Apa
pengertian media pembelajaran berbasis animasi, serta jenis-jenis media
pembelajaran animasi?
3.
Apa
pengaruh penggunaan media pembelajaran animasi terhadap hasil belajar mata
pelajaran sains bagi anak tunagrahita ringan, serta bagaimana langkah-langkah
dalam menggunakan media pembelajaran animasi?
4.
Apa
saja kelebihan dan kelemahan media pembelajaran animasi pada pelajaran sains
bagi anak tunagrahita ringan?
5.
Apa manfaat
media pembelajaran berbasis animasi pada mata pelajaran sains bagi anak
tunagrahita ringan?
- Tujuan
1.
Memahami
pengertian dan karakteristik anak tunagahita
2.
Memahami
pengertian media pembelajaran berbasis animasi, serta mengetahui jenis-jenis
media pembelajaran animasi
3.
Memahami
pengaruh penggunaan media pembelajaran animasi pada mata pelajaran sains untuk
anak tunagrahita ringan, serta mengetahui langkah-langkah dalam menggunakan
media pembelajaran animasi
4.
Memahami
kelebihan dan kelemahan media pembelajaran berbasis animasi pada pelajaran
sains bagi anak tuagrahita ringan
5.
Memahami
manfaat media pembelajaran berbasis animasi bagi anak tunagrahita ringan
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian dan
karakteristik
1.1 Pengertian anak tunagrahita
Anak
tunagrahita secara umum mempunyai tingkat kemampuan intelektual di bawah
rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam
interaksi sosial. Anak tunagrahita dikenal juga dengan istilah terbelakang
mental karena keterbatasan kecerdasannya yang mengakibatkan dirinya sukar untuk
mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu
anak tersebut membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan
dengan kemampuan anak tersebut.
Selain
istilah tersebut di atas, juga sering kita dengar dengan istilah mental
retardation, mentally reterded, mental deficiency, mental defective dan
sebagainya. Istilah-istilah tersebut sesungguhnya memiliki arti yang sama yang
menjelaskan kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan
ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan interaksi sosial.
Hal
ini sesuai dengan pernyataan menurut Sutjihati Somantri (2006:103), pengertian
tunagrahita adalah: “Istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai
kemampuan intelektual di bawah rata-rata". Hal tersebut dipertegas oleh
AAMD (American Association of Mental Deficiency), sebagai beriku:
“Keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelektual di bawah rata-rata
secara jelas disertai ketidak mampuan dalam penyesuaian prilaku dan terjadi
pada masa perkembangan”.
1.2 Karakteristik
anak tunagrahita
a. Karakteristik
anak tunagrahita secara umum
Adapun karakteristik
kemampuan secara umum anak tunagrahita dapat digambarkan sebagai berikut:
1)
Karakteristik mental
Anak tunagrahita memiliki daya assosiasi yang sangat terbatas,
menunjukkan adanya ulangan respon atau
jawaban yang sama terhadap pertanyaan yang berbeda (perseverasi). Daya ingatnya sangat terbatas sehingga anak tunagrahita cenderung sering lupa, kemampuan berpikirnya cenderung konkrit, kurang mampu mendeteksi kesalahan-kesalahan dalam menjawab pertanyaan. Daya konsentrasinya kurang dan mapu dalam penalaran dan persepsinya rendah.
jawaban yang sama terhadap pertanyaan yang berbeda (perseverasi). Daya ingatnya sangat terbatas sehingga anak tunagrahita cenderung sering lupa, kemampuan berpikirnya cenderung konkrit, kurang mampu mendeteksi kesalahan-kesalahan dalam menjawab pertanyaan. Daya konsentrasinya kurang dan mapu dalam penalaran dan persepsinya rendah.
2)
Karakteristik Fisik
Tunagrahita yang masuk
kelompok ringan, sebagian besar tidak memiliki kelainan fisik. Tunagrahita
sedang sampai sangat berat sebagian besar disertai dengan kelainan fisik dengan
tipe-tipe klinis tertentu
3)
Karakteristik Sosial-Emosi
Minat bermain dan
permainannya cenderung sesuai dengan kemampuan usia mentaknya daripada usia
sesungguhnya. Anak tunagrahita cenderung berperilaku impulsive, hiperaktif,
agresif, dan hipoaktif, serta terkesan suka melanggar norma atau nakal bila
dibandingkan dengan anak-anak normal. Tingkat perkembangan moral pada anak
tunagrahita ringan kebanyakan hanya sampai pada pembedaan baik-buruk dan
benar-salah berdasarkan respon atau reward yang di terima dari orang lain. Anak
tunagrahita sering membuat sesuatu tetapi tidak tahu apa makna dan tujuan
perbuatannya, dalam berperilaku anak tunagrahita kurang atau bahkan tidak
mepertimbangkan untung-rugi, baik-buruk, gagal-berhasilnya tindakan yang
dilakukan.
b.
Karateristik
Anak Tuna Grahita ringan
Anak tunagrahita ringan
memiliki angka kecerdasan/IQ berkisar 50/55-70/75, perkembangan fisiknya normal
akan tetapi perkembangan mentalnya berkelainan. Astati (Mumpuniarti, 2007: 15)
mengungkapkan bahwa anak tunagrahita ringan adalah anak yang memiliki tingkat
kecerdasan berkisar 55-70, dan sebagian dari mereka mencapai usiakecerdasan
mentalnya sama dengan anak normal, namun anak memiliki ketidakmampuan di bidang
akademik maupun ketidakmampuan pelajaran di sekolah yang membutuhkan
keterampilan motorik. Menurut Moh Amin (1995: 37) anak tunagrahita ringan
memiliki karakteristik sebagai berikut: lancar berbicara tetapi kurang
perbendaharaan kata-katanya, sukar berbicara abstrak, dapat mengikuti pelajaran
akademik di sekolah khusus.
Karakteristik pada anak
tunagrahita (Depdiknas, 2006: 8) sebagai berikut:
1)
Keterhambatan
fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah ratarata.
2)
Ketidakmampuan dalam perilaku sosial.
3)
Hambatan
perilaku adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun
Karakteristik anak
tunagrahita ringan secara umum mengalami kelemahan dalam pemikiran, namun di
sisi lain kemampuan yang lain masih dapat dikembangkan khususnya yang berkaitan
dengan bidang keterampilan. Menurut Rini Hidayani (2007: 6.5) mengemukakan
bahwa untuk bidang pekerjaan mereka mampu melakukan pekerjaan sederhana,
menyelesaikan tugas yang diberikan dan juga mengatur ruang. Pengertiandari
pendapat di atas, adalah dimana kemampuan belajar dan mengingat anak
tunagrahita ringan sebagai anak berkembang kurang dalam berfikir abstrak,
tingkat kecerdasan kurang atau rendah, ketidakmampuan di bidang akademik, daya
konsentrasinya kurang akan tetapi perkembangan fisiknya normal.
- Pengertian media pembelajaran animasi dan jenis-jenis
media pembelajaran animasi
2.1 Pengertian
media pembelajaran animasi
Dalam kaitannya dengan pengajaran-pembelajaran, media adalah segala
sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga terjadi
proses belajar. Contoh-contohnya termasuk video, televisi, computer, diagram,
bahan-bahan tercetak, itu semua dapat dipandang media jika medium itu membawa
pesan yang berisi tujuan pengajaran (Depdiknas, 2005). Istilah media pengajaran
dalam kegiatan belajar mengajar sering disinonimkan dengan istilah media
pendidikan. Media pendidikan adalah media yang penggunaannya diintegrasikan
dengan tujuan dan isi pengajaran dan dimaksudkan untuk mempertinggi mutu
mengajar dan belajar. Pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar
dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan
rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap
siswa.
Animasi merupakan gerakan objek maupun teks yang diatur sedemikian rupa
sehingga kelihatan menarik dan kelihatan lebih hidup. Menurut Utami (2007),
animasi adalah rangkaian gambar yang membentuk sebuah gerakan. Salah satu
keunggulan animasi adalah kemampuannya untuk menjelaskan suatu kejadian secara
sistematis dalam tiap waktu perubahan. Hal ini sangat membantu dalam
menjelaskan prosedur dan urutan kejadian.
Prinsip dari animasi adalah mewujudkan ilusi bagi pergerakan dengan
memaparkan atau menampilkan satu urutan gambar yang berubah sedikit demi
sedikit pada kecepatan yang tinggi atau dapat disimpulkan animasi merupakan
objek diam yang diproyeksikan menjadi bergerak sehingga kelihatan hidup.
Animasi merupakan salah satu media pembelajaran yang berbasis komputer yang
bertujuan untuk memaksimalkan efek visual dan memberikan interaksi
berkelanjutan sehingga pemahaman bahan ajar meningkat.
Sebagai media ilmu pengetahuan animasi memiliki kemampuan
untuk dapat memaparkan sesuatu yang rumit atau komplek untuk dijelaskan dengan
hanya gambar dan kata-kata saja. Dengan kemampuan ini maka animasi dapat
digunakan untuk menjelaskan suatu materi yang secara nyata tidak dapat terlihat
oleh mata, dengan cara melakukan visualisasi maka materi yang dijelaskan dapat
tergambarkan.
Animasi yang digunakan baik pada penjelasan konsep maupun contoh-contoh,
selain berupa animasi statis auto-run atau diaktifkan melalui tombol, juga bisa
berupa animasi interaktif dimana pengguna (siswa) diberi kemungkinan berperan
aktif dengan merubah nilai atau posisi bagian tertentu dari animasi tersebut.
Urutan kegiatan belajaranya dapat meliputi : melihat contoh, mengerjakan soal
latihan, menerima informasi, meminta penjelasan, dan mengerjakan soal/evaluasi
(Suwarna, 2007).
Dapat disimpulkan bahwa, media pembelajaran animasi merupakan media atau
alat yang digunakan dalam bentuk gambar gerak (efek visual) dalam menyampaikan
pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga terjadi proses belajar yang
efektif dan efisien.
2.2 Jenis-jenis media pembelajaran animasi
Dilihat
dari tehnik pembuatannya animasi yang ada saat ini dapat dikategorikan menjadi
3 yaitu:
a)
Animasi Stop-motion (Stop Motion Animation)
b)
Animasi Tradisional (Traditional animation.
c)
Animasi Komputer (Computer Graphics
Animation)
1.
Stop-motion
animation
Stop-motion animation sering pula disebut claymation karena dalam perkembangannya, jenis
animasi ini sering menggunakan clay (tanah liat) sebagai objek yang digerakkan
. Tehnik stop-motion animationmerupakan
animasi yang dihasilkan dari penggambilan gambar berupa obyek (boneka atau yang
lainnya) yang digerakkan setahap demi setahap. Dalam pengerjaannya teknik ini
memiliki tingkat kesulitan dan
memerlukan kesabaran yang tinggi.
2.
Traditional
animation (animasi tradisional)
Tradisional animasi adalah
tehnik animasi yang paling umum dikenal sampai saat ini. Dinamakan tradisional
karena tehnik animasi inilah yang digunakan pada saat animasi pertama kali
dikembangkan. Tradisional animasi juga sering disebut cel animation karena
tehnik pengerjaannya dilakukan pada celluloid transparent yang
sekilas mirip sekali dengan transparansi OHP yang sering kita gunakan. Pada
pembuatan animasi tradisional, setiap tahap gerakan digambar satu persatu di
atas cel.
Dengan berkembangnya teknologi komputer, pembuatan
animasi tradisional ini telah dikerjakan dengan menggunakan komputer. Dewasa
ini teknik pembuatan animasi tradisional yang dibuat dengan menggunakan
komputer lebih dikenal dengan istilah animasi 2 Dimensi.
3.
Animasi computer
Sesuai
dengan namanya, animasi ini secara keseluruhan dikerjakan dengan menggunakan
komputer. Dari pembuatan karakter, mengatur gerakkan “pemain” dan
kamera, pemberian suara, serta special effeknya semuanya di kerjakan dengan komputer. Dengan animasi komputer,
hal-hal yang awalnya tidak mungkin digambarkan dengan animasimenjadi mungkin
dan lebih mudah. Sebagai contoh perjalanan wahana ruang angkasa ke suatu planet
dapat digambarkan secara jelas. Perkembangan teknologi komputer saat
ini, memungkinkan orang dengan mudah membuat animasi. Animasi yang dihasilkan
tergantung keahlian yang dimiliki dan software yang digunakan.
Adapun jenis-jenis software yang
digunakan dalam pembuatan media pembelajaran animasi adalah:
-
Software animasi 2 dimensi
Software animasi 2D adalah software yang digunakan untuk
membuat animasi tradisional (flat animation), umumnya mempunyai
kemampuan untuk menggambar, mengatur gerak, mengatur waktu, beberapa dapat
mengimpor suara. Dari sisi penggunaan
umumnya tidak sulit.
Contoh dari Software Animasi 2D ini antara lain:
(1) Macromedia Flash,(2)
Macromedia Director,(3) ToonBoom Studio,(4) Adobe ImageReady,(5) Corel RaVe,(6)
Swish Max,(7) Adobe After Effect.
-
Software
animasi 3 dimensi
Software
animasi 3D mempunyai fasilitas dan kemampuan yang canggih untuk membuat animasi
3 dimensi. Fasilitas dan kemampuan tersebut antara lain, membuat obyek 3D,
pengaturan gerak kamera, pemberian efek, import video dan suara, serta masih
banyak lagi.
Beberapa
software animasi 3D mempunyai kemampuan khusus, misalnya untuk animasi
figure(manusia), animasi landscape (pemandangan), animasi title (judul), dll.
Karena kemampuannya yang canggih, dalam penggunaannya diperlukan pengetahuan
yang cukup tinggi dan terkadang rumit. Contoh
dari Software Animasi 3D ini antara lain: (1) 3D
Studio Max,(2) Maya,(3) Poser (figure animation),(4) Bryce (landscape
animation),(5) Vue (landscape animation),(6) Cinema 4D,(7)
Blender,(8) Daz3D.
- Pengaruh
penggunaan media animasi computer terhadap hasil belajar mata pelajaran
sains bagi anak tunagrahita ringan.
Penggunaan animasi dalam
pembelajaran memang mempunyai banyak kelebihanya.Saat ini semakin banyak
pendidik yang menggunakan animasi dalam menyamapikan materi yang di sampaikan
dalam menarik perhatian serta mempermudah pemahaman siswa dalam belajar.
Pembelajaran menggunakan animasi mempunyai banyak maanfaat dan keunggulanya.
Menurut Hidayat (2010)
Manfaat secara umum, media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar
interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih
efektif dan efisien. Tetapi secara. lebih khusus ada beberapa manfaat media
yang lebih rinci.
Menurut Kemp dan Dayton
(1985) dalam Hidayat (2010) manfaat media dalam pembelajaran,
yaitu: Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan. Setiap guru
mungkin mempunyai penafsiran yang berbeda beda terhadap suatu konsep materi
pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam tersebut
dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara seragam. Setiap
siswa yang melihat atau mendengar uraian suatu materi pelajaran melalui media
yang sama, akan menerima informasi yang persis sama seperti yang diterima oleh
siswa-¬siswa lain. Dengan demikian, media juga dapat mengurangi terjadinya kesenjangan
informasi diantara siswa di manapun berada.
Dengan menggunakan media animasi komputer, siswa tunagrahita terbantu
dalam memahami materi. Penyajian gambar yang menarik dan bergerak menjadi daya
tarik tersendiri bagi anak tunagrahita untuk memperhatikan materi yang
disajikan dalam animasi tersebut. Fasilitas yang dihadirkan oleh tampilan
gambar animasi menambah kesan visual pada anak sehingga dapat mendorong minat
dan motivasi anak tunagrahita yang cenderung memiliki hambatan dalam memfokuskan
perhatian untuk pembelajaran -pembelajaran yang
bersifat akademis seperti
halnya mata pelajaran sains.
Ketertarikan anak
tunagrahita terhadap gambar
animasi didukung oleh
tampilan fasilitas animasi tersebut diantaranya warna yang
menarik, pemilihan background, dan pemilihan karakter. Selain penyajian gambar
yang menarik sebagai
stimulus visual, media
animasi komputer juga
menampilkan stimulus dengar
berupa penjabaran kata -kata sederhana untuk membantu siswa memahami
gambar yang disajikan.
Belajar dengan menggunakan indera ganda, yaitu indera pandang dan dengar
akan memberikan keuntungan bagi siswa. Pengajaran yang melibatkan lebih dari
satu indera disebut pengajaran multisensori. Berkaitan dengan hal itu The International
Dyslexia Association (IDA) menyatakan bahwa
pengajaran multisensori adalah
penggunaan indera visual, auditori,
dan kinestetik -taktil secara
serempak yang bertujuan
untuk meningkatkan daya
ingat dan pembelajaran siswa.
Siswa akan belajar lebih banyak daripada jika materi itu disajikan hanya dengan
stimulus pandang atau stimulus dengar
saja. Perbandingan pemerolehan
hasil belajar melalui
indera pandang dan
indera dengar sangat
menonjol perbedaannya. Dale dalam
Arsyad (2002 : 10 )
menyatakan bahwa ’pemerolehan
hasil belajar seseorang
melalui indera pandang berkisar 75%, melalui indera dengar sekitar 13 %
dan indera lainnya sekitar 12%’.
Hal ini sejalan dengan pendapat Levie dalam Arsyad, A (2002 : 9) tentang
belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal yang
menyatakan bahwa ’ belajar melalui stimulus visual membuahkan hasil belajar
yang lebih baik untuk tugas -tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat
kembali, dan menghubungkan fakta dan konsep’. Anak tunagrahita dalam
pembelajarannya terutama untuk hal -hal yang bersifat akademis harus didukung
oleh penyajian objek yang
konkret dan pengalaman
langsung namun ada
beberapa materi yang
tidak dapat diberikan secara langsung sehingga untuk
mewakilinya diperlukan suatu bahan
materi atau media pembelajaran yang dapat memperagakan pengalaman itu
sehingga tidak hanya bersifat verbalistis. Media pembelajaran yang digunakan
untuk anak tunagrahita harus merangsang semua sensori secara utuh dan
pembelajaran akan lebih berkesan,
Media Gambar Animasi juga sangat disukai oleh anak-anak tunagrahita,
sehingga diharapkan pembelajaran sains bagi mereka dapat lebih menyenangkan,
dapat menghilangkan kejenuhan dalam proses pembelajaran, serta meningkatkan
hasil belajar siswa, baik hasil belajar dalam aspek pengetahuan, pemahaman,
maupun penerapan secara signifikan. Dengan kata lain mampu membantu siswa mampu
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai teori dan konsep pembelajaran
sains.
- Kelebihan
dan kelemahan media pembelajaran animasi pada mata pelajaran sains bagi
anak tunagrahita ringan
1.
kelebihan
media pembelajaran animasi pada mata pelajaran sains bagi anak tunagrahita
ringan.
Kelebihan media pembelajaran animasi
pada mata pelajaran sains bagi anak tunagrahita adalah penggabungan unsur media
lain seperti audio, teks, video, image, grafik, dan sound menjadi satu kesatuan
penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Selain
itu, dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual,visual,dan auditif
(Sudrajat, 2010).Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seorang guru atau
pelatih dalam memilih dan menggunakan media audio-visual dalam menyampaikan
informasi, fikiran dan pesan kepada anak didiknya, menurut Sadiman (2003:23)
dalam Anonim (2009) antara lain:
Animasi komputer ini memiliki kelebihan yang mendukung pada pembelajaran
sains pada anak tunagrahita, diantaranya adalah sebagai berikut:
1)
Mendorong
minat dan motivasi belajar anak tunagrahita. Tampilan yang menarik akan
meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar.
Fasilitas yang dihadirkan untuk membuat suatu tampilan yang menarik.
Diantaranya adalah pemanfaatan background yang memberi kesan berbeda pada
tampilan. Pemilihan warna, pemberian tekstur dan pemilihan karakter yang
menarik dapat menambah kesan visual pada anak tunagrahita.
2)
Meningkatkan
konsentrasi dan perhatian siswa terhadap proses pembelajaran. Meningkatkan
perhatian dan konsentrasi merupakan satu nilai lebih dari penggunaan media
animasi ini dalam proses pembelajaran sains, karena biasanya siswa tunagrahita
sering malas dan tidak tertarik dengan pembelajaran akademik salah satunya mata
pelajaran sains.
3)
Program
animasi ini mampu memvisualisasikan materi -materi pelajaran yang sulit
disajikan melalui pengalaman langsung siswa.
4)
Penggunaan
gambar, cerita yang ditampilkan dalam animasi komputer tersebut dapat membantu
memperjelas penyampain pesan pada anak tunagrahita.
5)
Animasi
yang disajikan merupakan sarana untuk memungkinkan terjadinya proses be lajar
mengajar yang kondusif sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran, karena animasi computer
2.
Kelemahan media pembelajaran animasi pada pelajaran sains
bagi anak tunagrahita ringan.
Selain kelebihan yang dimiliki oleh media pembelajaran
animasi diatas, terdapat juga beberapa kelemahan yang dimiliki, kelemahan
tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
Media animasi merupakan media yang cocok
digunakn dalam pembelajaran sains bagi anak tunagrahita ringan, karena dengan
menggunakan media animasi anak tunagrahita dapat mengetahui atau lebih mudah
memahami tentang materi tang disampaikan oleh guru.
Hanya saja Pedidik harus juga berfikir
kreatif untuk menggunakan animasi sesuai dengan materi yang disampaikan,
sehingga siswa dapat memhami isi materi yang terkandung dalam animasi yang
ditampilkan oleh guru. Menurut Artawan (2010), kelemahan dari media animasi diantaranya
:
a)
Memerlukan kreatifitas dan ketrampilan yang
cukup memadai untuk mendesain animasi yang dapat secara efektif digunakan
sebagai media pembelajaran
b)
Memerlukan software khusus untuk membukanya
c)
Guru sebagai komunikator dan fasilitator
harus memiliki kemampuan memahami siswanya, bukan memanjakannya
dengan berbagai animasi pembelajaran yang cukup jelas tanpa adanya usaha
belajar dari mereka atau penyajian informasi yang terlalu banyak dalam satu
frame cenderung akan sulit dicerna siswa.
d)
memerlukan
komputer sebagai alat bantu pengajaran dan membutuhkan tenaga listrik yang
tinggi
e)
proses
pembuatan animasi membutuhkan waktu yang lama dan tidak semua guru dapat
menggunakan komputer.
- Manfaat media pembelajaran berbasis animasi pada mata
pelajaran sains bagi anak tunagrahita ringan.
Adapaun manfaat media pembelajaran
berbasis animasi pada mata pelajaran sains bagi anak tunagrahita adalah sebagai
berikut:
1)
Pengajaran akan lebih menarik perhatian anak tunagrahita,
sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
2)
Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat
lebih dipahami oleh anak tunagrahita, dan memungkinkan mereka menguasai tujuan
pengajaran lebih baik;
3)
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga anak
tunagrahita tidak bosen dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru
mengajar untuk setiap jam pelajaran;
4)
Anak tunagrahita lebih banyak melakukan kegiatan belajar,
sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Anak tunagrahita memiliki hambatan dalam belajar, mereka memiliki IQ
dibawah rata-rata anak pada umumnya. Kejenuhan anak tunagrahita dalam menerima
materi yang disampaikan guru, cenderung lebih besar dibandingkan dengan anak
lainnya. Oleh karena itu proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran
sains bagi anak tunagrahita harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan sehingga proses belajar/mengajar
dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Oleh karena itu seorang guru
harus pandai memilih media pembelajaran yang menarik perhatian dan mampu
meningkatkan minat belajar siswa tunagrahita, serta harus sesuai dengan materi
yang akan disampaikan.
Dalam mata pelajaran sains, pemilihan media pembelajaran oleh guru
sangatlah penting. Seorang guru dapat mengunakan berbagai alternatif media
pembelajaran yang diperkirakan dapat membantu anak tunagrahita dalam belajar.
Salah satu media yang dapat diterapkan adalah media animasi komputer. Media
animasi komputer merupakan salah satu media alaternatif yang dapat digunakan
dalam pembelajaran hal ini berdasarkan anggapan bahwa aspek visual lebih bisa
memberi informasi yang jelas dari sekedar kata-kata. Animasi komputer dapat
membantu anak tunagrahita ringan belajar sains pada tingkatan abstraksi yang
berbeda karena gambar pada komputer berperan sebagai mediator antara masalah
pada alam nyata dengan dunia abstrak pengetahuan sains.
- SARAN
Media pembelajaran animasi merupakan
media pembelajaran yang sangat tepat bagi anak tuna grahita ringan dalam
pelajaran sains. Namun kurangnya pengetahuan atau kemampuan seorang guru dalam
menggunakan computer, merupakan factor utama kegagalan guru dalam menggunakan
media pembelajaran berbasis animasi. Oleh karena itu, penulis ingin memberi
saran kepada calon guru dan yang sudah menjadi guru, agar terus belajar dan
berlatih dalam menggunakan atau mengoperasikan computer, sehingga dalam proses
pembelajaran guru mampu mengimplementasikan atau menggunakan media pembelajaran
berbasis animasi tersebut, agar tujuan pembelajaran yang telah direncanakan
dapat tercapai dengan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_plb_045822_chapter1(1).pdf
http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_plb_045822_chapter1(1).pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195103261979032-PUDJI_ASRI/Pengaruh_Media_Animasi_komputer_terhadap.pdf
http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/23/jhptump-ump-gdl-christiana-1106-1-b.20.pdf
http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_plb_0705115_chpater2.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195602141980032-TJUTJU_SOENDARI/Artikel/Artikel_Media_IPA.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar